Followers

Sabtu, Januari 23, 2016

Siapa Sih yang Membatasi Kreatifitas Kita?

Di pati, Jawa tengah ada dua anak SD kakak beradik yang karena kreativitasnya berhasil menemukan penemuan terbaru yang bermanfaat dari bahan sederhana, yakni barang bekas, bahan daur ulang.
Kakak beradik penemu 'Helper Mirror'/Doc.Google
Berawal dari orangtua mereka nih guys yang kesulitan memasukkan cairan obat tetes mata ke titik mata yang dirasa perlu diobati, mereka mendapatkan ide brilian tersebut. Bersaing dengan kakak-kakak setingkat SMP dan SMA karya mereka berhasil menarik perhatian banyak orang. Itu karena mungkin ide yang ditunjukkan cukup unik dan terbilang mudah untuk dibuat.

Nah, bicara soal kasus tadi, kita bisa belajar banyak nih tentang bagaimana seorang kanak-kanak berkreasi dengan ide mereka. Seperti dua kakak beradik tadi yang menciptakan produk yang diberi nama 'helper mirror' dimana alat ini membantu penggunanya dalam menggunakan obat tetes mata.

Siapa sih diri kita sewaktu kecil?
Terkadang kita melewatkan pemikiran ini begitu saja,kita lupa untuk mencerna lagi siapakah sesungguhnya jati diri kita sewaktu masih anak-anak.
Anak-anak pada dasarnya pemberani, polos, berkeingin-tahuan kuat, masa' bodo dan cenderung spontanitas dalam bertindak. Itulah yang membuat kita dulu bisa merangkak, berjalan, berlari, melompat, bersepeda, memanjat, membaca, menulis dan banyak keterampilan lainnya. Namun seiring dengan bertambahnya usia kita sendirilah yang membatasi diri kita dalam berkreasi, kita sendirilah yang mengubur rasa percaya diri dan keingin-tahuan kita, hingga yang tersisa cuma naluri pengekor atau peng-imitasi yang juga kita dapat sewaktu anak-anak.

Bagaimana sifat dasar anak-anak yah?
Seperti yang disebutkan tadi guys. Anak-anak itu pemberani, seorang ekplorer terbaik, kreativitasnya tinggi. Dan sebenarnya kita masih bisa mendapatkan sifat dan kemampuan itu kembali dengan membiarkan diri kita berkembang secara alami tanpa sebuah tuntutan yang kita bikin sendiri. Kita nggak perlu seperti albert einstein yang bisa nemuin penemuan jenius, jadi jokowi yang fenomenal sebagai presiden, jadi musisi dunia seperti adele dan lain-lain, tapi kita cukup menikmati aja jadi diri kita dan biarkan naluri alami itu tetap tumbuh subur didalam diri kita seperti layaknya dulu waktu kita anak-anak. Akan jadi lebih seru kan guys?

Apa yang berubah saat kita jadi remaja Dewasa?
Kita jadi lebih hati-hati. Loadingnya terlalu lama untuk melakukan sesuatu, penuh dengan pertimbangan, ragu-ragu dan takut gagal. kita membentuk diri kita sendiri seperti itu, karena kita berpendapat untuk bisa jadi hebat seperti orang lain. Idola kita sudah membuat kita menahan diri kita sendiri, kita cenderung ingin menyamakan nasib, jalan sukses dan apa yang telah dilakukan idola kita yang sukses, padahal yang kita perlukan hanyalah menggali kehebatan kita secara natural aja, menjadi hebat sebagai diri sendiri lebih gampang kan guys daripada hebat sebagai figur yang lain?

Faktor apa yang mempengaruhi kita jadi kayak gitu?
Yah, karena kita ingin tampil sempurna. Kita ingin jadi lebih baik dengan semua persepsi umum kebanyakan orang. Tapi perlu dipikir lagi guys,kita nggak akan bisa menyenangkan semua orang, memuaskan semua orang dan menjadi apa yang semua orang inginkan. Jadi, yang dipandangkan baik bagi orang belum tentu cocok dan baik bagi diri kita. Kita ambil contoh makan telur, misalnya. Kata kebanyakkan orang telur itu baik, mengandung protein tinggi dan baik untuk kesehatan. Trus apakah itu berlaku untuk semua orang? Apakah berlaku untuk kita? Belum tentu kan guys. Bisa aja salah satu dari kita ada alergi dengan telur. Well, kitalah yang mengerti apa yang terbaik bagi kita selagi kita terus mau belajar menggali potensi diri, tentunya secara alami layaknya anak-anak.
Inilah kita kalau terus Berani seperti Anak-anak
Inspirator muda founder 'Sawo Kecik'/Doc.Google
Seorang kreatif muda founder produksi rumahan dengan brand 'Sawo Kecik' berhasil meraup omset jutaan perbulan hanya dengan menggunakan kreatifitasnya dalam mendaur ulang sampah kotak susu.
Kita bisa belajar dari remaja dewasa ini dimana dia menginjinkan ide kreatifnya untuk direalisasikan tanpa rasa takut. Mungkin ide yang dikeluarkan atau dicetuskan itu hanyalah ide biasa, yakni daur ulang sampah,tapi apa yang bisa kita lihat sekarang, 'Sawo Kecik' bisa jadi berkembang pesat dan punya pelanggan tertentu sebagai segmen pemasarannya.

Kita bisa jadi seperti founder yang satu ini, kita sangat bisa jadi lebih kreatif dan luar biasa. Asalkan kita biarkan semangat-semangat kekanak-kanakan kita, kita biarkan muncul secara alami dengan diiringi pemikiran yang positif, pasti kita bisa jadi lebih baik dari sekarang. Jangan takut untuk mencoba dan jangan pernah jadi orang lain yah guys. Terima kasih sudah membaca. See you. (/TM)

Ditulis Oleh : TMarsyam // 1/23/2016
Kategori:

4 komentar cerita ini:

Riskiantropus mengatakan...

iya bener banget nih postingannya. kadang kita sendiri yang membatasi diri kita, apalagi kalo terserang virus malas. duh tamat lah sudah.
eh betewe itu fotonya sawo kecil kok blur gitu ya.. gak ada yang laenkah? soalnya udah tak reload beberapa kali kok masih tetep blur. padahal foto lu detail banget deh. tuhkan jadi salah fokus.
oke salam kenal fieqman :)

TMarsyam mengatakan...

makasih atensinya yah.
kalo soal foto, kayaknya memang blur karna resolusi yang diambil size kecil, foto diambil dari doc. google.
sorry untuk fotonya yah.
salam kenal kembali. :-)

Juju Onyols mengatakan...

Bagus banget postingannya.

Orang tua bisa saja jadi membatasi kreatifitas anaknya. Namun, balik lagi ke anaknya :))

TMarsyam mengatakan...

Thanks.
Makanya saat jadi orangtua juga kita masih akan tetap belajar. Ditambah teknologi semakin canggih, kalau orangtua tetap menerapkan pola lama, bisa bahaya, ya enggak?
Dan bener sih. Kembali si anaknya sendiri, untuk beberapa anak, mereka bisa mengatasi itu.

 
Diberdayakan oleh Blogger.