Followers

Jumat, Januari 08, 2016

Klasik 2000 vs Kekinian

sosial media twitter masih populer kini. (.Doc)
Ada beberapa yang beda kalau kita melihat lagi hal-hal unik yang ada ditahun 2000an.
Masih ingat dengan majalah bobo,misalnya?
Atau kartun-kartun lucu di minggu pagi?
Semua masih terasa asik dimasa saat itu.
Anak atau remaja yang lahir di era 90 an tentu paham rasanya menjadi anak-anak penuh rasa ingin tahu dan kreatif.

Beberapa hal memang berkembang pesat dan mempermudah kita dalam melakukan apapun.
Nah, kali ini gue akan kasih beberapa hal-hal yang menjadi plus atau minus di tahun 2000an.
Apa aja yang jadi point-pointnya?
Kita cek berikut ini:

1. Privasi is Number One
Kebayang jaman dulu privasi itu jadi point yang dijaga banget oleh pemiliknya. Nggak usah ditutup-tutupin deh! Waktu dulu era sebelum internet semakin merajala lela,baik cewek maupun cowok suka tulis-tulis pengalaman sehari-hari dibuku harian. Cowok mungkin males nyebutnya diary, dan cewek suka banget dengan sebutan itu.
Nah, kalau dulu ada orang aja yang tiba-tiba jahil ambil buku harian yang selalu dibawa di tas nih bagi cewek-cewek, pastinya itu bikin emosi, si cewek itu mungkin bilang ke temennya yang kepo itu, "eh! Punya tata krama nggak loe? Baca-baca privasi orang?"
Trus, coba kalian bandingin dengan anak zaman sekarang!
Anak zaman sekarang atau juga kita nih yang holic banget dengan gadget, kadang-kadang suka posting hal-hal pribadi ataupun curhatan, anehnya lagi suka pada kesel kalau postingan itu nggak rame ataupun nggak ada yang komentar. Kita malah marah-marah kalau privasi kita nggak digubris sama orang. Iya nggak? Hahah

Me time yang sehat.(.doc)
2. Gadget is my everything than family, unrealized!
Balik lagi soal curhat tadi, gadget sekarang sudah jadi simulator seorang bagian keluarga kita tanpa disadari.
Kalau ada apa-apa, mau minta pendapat, bukannya tanya keluarga,mama? Papa? Atau kakak-adek dirumah, ini kita malah tanya netizen di sosial media yang padahal semuanya itu belum tentu baik untuk kita terima. Terkadang keluarga bukan prioritas untuk tempat solusi tanpa kita sadari, artinya gadget menjauhkan kita dari keluarga.

3. Mana Ranah pribadi mana Publik, Don't know?
Saking bebasnya berpendapat di dunia maya, kita sendiri lupa untuk menjaga etika dan tata krama dalam bertutur.
Blak-blakan itu boleh, jujur dengan pendapat juga boleh, tapi kalau sudah menyinggung atau membunuh karakter orang, mem-bully dan menyingkirkan hakikat manusia yang ingin dihargai, itu tentunya jadi hal yang salah. Dulu kita takut sekali akan menyinggung orang dengan kata-kata kita. Kalau kamu masih ada dizaman surat-suratan, pasti paham betul untuk menuliskan kata-katanya harus dipilah-pilih yang santun, enak dibaca dan bersahabat, bayangkan dengan komentar sekarang didunia maya! Keduanya dilakukan dengan media yang sama yaitu tulisan, tapi karakter yang ditunjukkan malah mundur kebelakang seperti tidak ada unsur pendidikannya. Faktor tidak bertatap muka langsung dengan lawan bicara mungkin jadi alasan untuk lebih berani menghina dan mengucilkan. Jadi, ditelaah lagi ya guys! Be more polite!

4. Tontonan itu Tuntunan.
Kalian pasti pernah dengar istilah klasik tentang cara bayi secara alami belajar. Yah! Mereka meng-imitasi atau secara harfiahnya meniru. Nah, seperti bayi kita juga secara tidak langsung dibentuk karakternya oleh apa yang kita lihat dan tonton setiap harinya. Televisi sekarang terus berkembang dengan kreativitas dan keragaman acaranya, tapi nilai komersil kadang menghilangkan unsur utama televisi dalam membentuk karakter bangsa.
Sekarang banyak banget acara televisi yang menunjukkan sisi-sisi angkuh, cuek, licik, kontras atau frontal, dan banyak lagi lainnya. Alasan untuk menunjukkan sebuah realita bahwa tidak semua manusia di Indonesia ini adalah malaikat baik hati itu bagus, tapi juga tidak harus selalu menunjukkan hal-hal yang buruk seperti berita korupsi dan sifat tidak santun lainnya yang tadi udah disebutin.
Coba kita bandingkan dengan tayangan televisi saat itu ditahun 2000an. Mulai dari sinetron nya, berita dan lain-lain, dari acara tersebut setidaknya pemain dibelakang layar punya usaha untuk menunjukkan nilai pembelajaran yang bisa dipetik dari sebuah acara.

Kalau kalian ingat sinetron lupus. Disini mungkin atau tentunya ada sisi jelek yang terpublish dalam adegan-adegannya, tapi kita masih bisa mengambil pelajaran dari keseharian lupus yang pekerja keras, kreatif, sayang keluarga.
Keluarga cemara juga salah satu sinetron yang serupa yang menunjukkan nilai peduli sesama.
Mungkin memang ada atau faktanya banyak keluarga tidak harmonis, orang-orang dengan bersifat ganda atau biasanya sih kalian bilang dengan kata 'munafik', tapi satu yang harus dipikirkan adalah masih ada juga keluarga harmonis, karakter yang baik, peduli dan lain-lain yang bisa dikemas dalam suatu acara, hasilnya bisa jadi pelajaran kita untuk secara langsung atau tidak langsung terstimulasi untuk mencontoh karakter tersebut.
Bagi kalian yang masih sempat merasakan era 2000an, tentu sempat pula merasakan atmosfer saling percaya, tidak menaruh curiga terhadap lawan bicara, tentunya selalu berfikir positif kepada siapapun tanpa pamrih.

5. Me time is forever than go hangout
Dulu sebelum sosial media berkembang, kita nih anak atau remaja tahun 2000an paling bete kalau dirumah sendirian, biasanya saat libur sekolah dihari minggu. Habis nonton kartun pagi-pagi siangnya bingung mau ngapain, akhirnya keluar rumah kumpul sama anak-anak komplek main kelereng, layang-layang, tamiya, crushgear, beyblad dan lain-lain. Untuk yang beranjak remaja saat itu ke mall main game sama-sama, nongkrong tempat temen, main sepatu roda an, dan banyak lagi. Tapi semenjak menjamurnya media sosial, kita cenderung fokus pada gadget smartphone, ketawa-tawa di group sosial media, cuci mata liat pemandangan via instagram, yang kesemuanya itu tidak secara real dirasakan oleh motorik kita. Kita sebetulnya tetap bersosialisasi, namun sifatnya yang sekarang ini tidak melibatkan saraf motorik kita, alat gerak kita, jadi cenderungnya kurang sehat. Ujung-ujungnya kalau udah fun di sosial media, jadi keasyikan dan males untuk keluar rumah.

6. Faster! Faster! Faster!
Nah, kalau yang ini kita diuntungkan sebagai penikmat kecanggihan teknologi di masa kekinian. Dijaman sekarang semua dipermudah dan cepat. Kirim surat, dari email langsung main hitungan menit sudah sampe ke penerima. Coba bayangin waktu sebelum internet, kirim surat hari ini kemungkinan sebulan nyampe dan dua bulan berikutnya baru dapet balesan.
Inget masa-masa kirim surat ke artis waktu era dua ribuan? Pengalaman seorang teman, kalau dulu dia coba kirim surat ke artis dengan bahasa santunnya biar si artis respect trus ngebales, kirimnya hari ini, enam bulan berikutnya si teman ini mendapat balesan dari si artis, saat itu kirimnya hanya boleh ke alamat stasiun tv bersangkutan. Disitu si teman seneng banget nerima balesan surat dari si artis lengkap dengan koleksi fotonya plus tanda tanganya.
Bandingkan dengan sekarang, stalking in aja artis sampe dia bosen, kalau beruntung kalian akan direspon, kalau menggunakan twitter, si artis akan retweet, lebih beruntung lagi si artis tanda tangan di fotonya trus scan dan diupload di sosial media trus di tag ke kalian, pastinya kalian akan jadi seneng banget, buru-buru print out scan an itu dan ditunjukkin ke temen-temen lainnya, nggak sampe sehari kan kalau lagi beruntung? Heheh..

7. Can go front or back anytime we want!
Yeah! Kalau udah bicara zaman gadget dan sosial media sekarang, kita bisa sesukanya untuk flashback lagi hal-hal yang dirasa penuh moment, contohnya acara tv zaman dulu era 2000an yang bagus-bagus bisa ditonton ulang di channel youtube. Bisa tahu informasi sejarah negara kita atau negara luar juga dengan mudah di akses dizaman kekinian.

Itulah tadi beberapa point yang bisa kita bandingkan dari zaman 2000an dengan zaman kekinian, tidak seluruhnya buruk juga tidak seluruhnya baik, jadi bisa-bisa kitanya aja yah!
Terima kasih sudah membaca postingan kali ini, semoga bermanfaat guys.

Ditulis Oleh : TMarsyam // 1/08/2016
Kategori:

2 komentar cerita ini:

PIPIT mengatakan...

Tambahan dari gue, piknik atau berkunjung ke wisata alam bukan untuk menikmati keindahannya, tapi lebih buat foto dan eksis di medsos. Bahkan bisa berakibat menjadi kerusakan atas keindahan yg tidak bersalah, sori bahasa gue jadi lebay, soalnya gue pernah alay.. Hahaha

Fieqman Marsyam mengatakan...

Hehe.. terima kasih atas tambahan informasinya.
Semoga yang baca jadi paham, boleh sih buat eksis tp tetap jaga lingkungan. Ya nggak?

 
Diberdayakan oleh Blogger.