Followers

Sabtu, Januari 30, 2016

Jadilah Bijak Gunakan Sosial Media

Pernah merasa kecewa dengan sahabat?
Atau kalian kesel dengan kelakuan salah satu sahabat yang bikin kalian malu didepan orang banyak?
Bisa juga kita ngomongin hal lain yang merusak mood kamu di suatu hari.
Gampangnya kita suka pake sosial media untuk menceritakan atau menumpahkan kesal itu dalam kata-kata yang panjang dan rumit.
Tapi, kadang juga kita lupa kalau kita mencantumkan itu untuk dikonsumsi publik.

(Doc.Google)
Enggak ada yang salah dengan sosial media, tapi gimana cara kita bijak menggunakannya lah yang jadi masalah.

Singkat cerita sosial media diciptakan bertujuan untuk memperluas jaringan pertemanan, misalnya facebook,twitter, instagram dan lain-lain. Namun semakin bertambahnya tahun, fungsi utamanya tidak secara langsung hilang namun terkikis dengan tampilan fitur-fitur pemanisnya. Didalam sosial media itu biasa kita lihat kolom untuk mengungkapkan perasaan hati saat itu, atau gampangnya kolom curhat virtual yang sengaja disediakan situs pertemanan tersebut.

Nah, dengan kemudahan dan jadi gaya hidup itu juga membuat kita nih jadi lupa kalau gunanya sosial media yah untuk memperluas jaringan pertemanan, nambahin kenalan baru.
Tapi yang paling dominan kita lakuin adalah posting kegiatan pribadi, selfish, dan ngomel atau ngeluh tentang suatu kejadian tertentu.

Kalau dipikir-pikir, ngeluh atau komentar itu sebenarnya bentuk curahan hati kita yang harusnya bisa kita filter dulu sebelum masuk ke ranah umum. Dan yang terjadi malah kita suka ceplos aja karena ngerasa itu akun gue, suka-suka gue mau ngomong apa, sikap cuek kita bikin kita jadi lupa diri.

Padahal inget enggak dulu sebelum sosial media bertambah banyak, internet belum jadi semarak sekarang ini. Kita dulu paling bisa kirim email ke sebuah acara televisi contohnya.
Sebuah pengalaman dulu sekitar tahun 2000an, teman menonton acara masak di televisi, di akhir acara ada kuis berhadiah menarik yang bisa diikuti, lalu juga dibilang saat program berlangsung, kita bisa juga memberikan kritik dan komentar untuk acara tersebut.

Yang terjadi, yang akan kita lakuin dulu mungkin pikir-pikir dulu, bagusnya kata-kata seperti apa yah yang menarik untuk ditanyakan?, kira-kira mereka akan kesindir nggak yah kalau gue tulis begini?
Nah, kita mungkin sempat berfikir banyak dulu sebelum memastikan akan berkomentar atas sebuah acara tertentu.
Berkaca dari pengalaman itu, kita sekarang seolah lupa untuk mem-filter apa yang seharusnya kita katakan kepada publik.
Kita seolah kehilangan norma, saling menghargai, sopan santun, dan menimbang perasaan pembaca yang tentunya akan kebaca tulisan yang kita posting.

Singkat cerita, ada seorang nih misalnya buat status di sosial media. Ini orang dibikin kesal dengan tindakan seorang temen lain, trus karna nggak suka dia nyindir di sosial media, kita ambil contoh bbm. Si temen yang ngerasa kesindir jadi salah tingkah, tapi kita yang nyindir malah berlagak kayak nggak tahu apa-apa. So, apakah itu menyelesaikan masalah? Yang ada malah tambah kompleks kan? Kita dan orang yang kita sindir jadi kaku dan terkesan nggak percayaan satu dengan yang lainnya. Itu yang kadang ngebikin persahabatan kita jadi palsu.
Coba kalau kita nggak suka, kita berlagak seperti jaman dulu, kita anggap kita belum kenal sosial media. Pasti yang kita pikirin adalah gimana caranya ngomong ke orang bersangkutan, kita jadi gelisah. Jadi kita dituntut lebih kreatif dalam bertindak, menemukan cara terbaik untuk win-win solution, biar semua nggak ada yang tersinggung, dan bisa terbuka.

Itu contoh kecil yang bisa terjadi ke kita kalau nggak bijak gunain sosial media. Trus apa yang sebaiknya kita lakukan? Sosial media yang baik itu seperti apa yah?

Pertama,
Gunakanlah kolom postingan di sosial media untuk ajang berbagi informasi penting. Misalnya kita dapat informasi terbaru yang kita rasa ini bagus dan teman-teman yang lain harus juga baca, kita bisa referensiin ke sosial media kita, kalau dari twitter, kita bisa retweet, dari facebook kita bisa cantumkan alamat website yang bersangkutan atau bisa pilih menu 'bagikan' supaya tampil juga di
Laman sosial media kita.

Kedua,
Galih potensi kita trus bagikan apa yang kita pelajari dan kita dapat dari hasil observasi kita di sosial media kita. Kalau hobinya bahasa inggris, kita bisa cantumkan tentang topic apa yang sedang kita pelajari, trus apa yang kita tangkap dari hasil belajar itu, dan ajak teman-teman di sosial media untuk bahas sama-sama tentang topik itu. Jadi selain nambah kenalan baru yang mungkin tertarik dengan pembahasan itu, kita juga bisa saling berbagi ilmu. Contoh yang sama juga berlaku untuk hobi lain, misalnya hobi fotographi, kita bisa pajang hasil jepretan kita trus minta saran ke teman-teman di sosial media. Lagi belajar masak? Kita bisa posting kegiatan yang kita lakuin, siapa tahu proses masak yang kita lakuin ada yang keliru atau perlu tambahan sedikit supaya masakan jadi tambah enak, jadinya kita bisa meningkatkan bakat kita dibidang itu kan?

Ketiga,
(Doc.Google)
Stop ngomel atau ngeluh nggak jelas tanpa landasan yang kuat. Kita harus belajar untuk bertanggung jawab dengan apa yang kita keluhkan. Misalnya mengeluh soal satu putusan pengadilan terhadap tersangka korupsi. Kita kasih argumen kita, kita tambahin dengan pengetahuan kita tentang pasal-pasal yang berkenaan dengan itu, yang sudah kita pelajari lebih dulu sebelum kita berkomentar, namun tentunya dengan bahasa yang tidak menyudutkan atau menyalahkan satu pihak. Kita harus ingat masa-masa dulu saat masa memberikan kritik itu harus dengan bijaksana. Kita harus ingat kalau Indonesia itu terkenalnya dengan ramah tamah dan tutur sopan.
Jadi kalau mau curhat yang bener-bener curhat sebaiknya jangan di sosial media, libatkanlah keluarga kita, teman akrab kita, tukar pikiran secara kontak langsung sebelum akhirnya membuat kesimpulan, kalau dirasa perlu untuk di aspirasikan, barulah kita bisa gunakan sosial media. Beruntungnya kita di jaman kecanggihan teknologi saat ini, kita nggak perlu repot-repot demo, pergi ke gedung DPR misalnya, atau datangi rumah dinas presiden, cukup manfaatkan internet dan sosial media, aspirasi kita sudah bisa didengar. Walau keliatannya nggak direspon,setidaknya peluang dibaca, ditelaah, dipahami orang banyak bahkan oknum yang kita harapkan akan merespon, itu sudah jadi nilai plus dan kemudahan yang kita dapat dari sosial media.

Jadi, mulai sekarang kita harus bijak menggunakan sosial media. Jangan sampai kita jadi korban sosial media. Kita jadi tanda tanya dengan diri sendiri nantinya dikemudian hari, mungkin saat dua atau tiga tahun setelah kita posting sesuatu di sosial media kita akan bilang, "kok gue bikin status beginian yah?" Atau "gara-gara postingan ini nih gue jadi kena kasus!" Dan penyesalan-penyesalan lainnya.
Maka berhati-hatilah dengan lisan kita guys.
Terima kasih sudah membaca. See you. (/TM)

Ditulis Oleh : TMarsyam // 1/30/2016
Kategori:

2 komentar cerita ini:

Adhy Nugroho mengatakan...

konfrontasi gak penting di media sosial, terutama di kolom komentar di video Youtube atau kolom komentar di postingan Instagram artis/akun terkenal. Kadang suka males nyimak tapi penasaran juga buat nyimak. Hehehe

TMarsyam mengatakan...

Heheh..jadi ujungnya nyimak jg yah?
Tapi buat yang kasih komentar, semoga pada sadar, tetap jaga omongan. Budayakanlah budaya indonesia yang sopan santun. :-)
Makasih atensinya yah.

 
Diberdayakan oleh Blogger.